Pengikut

Mengenai Saya

Foto saya
Assalamualaikum. namaku nufus. banyak yang bilang aku itu anaknya asyik *halah?* wanita biasa kok :) berteman dengan siapa aja asalkan dia baik :) mengejar dunia dan akhirat

Sabtu, 24 Desember 2011

teman kecil yang sudah asing

Teringat saat kita bertemu kemarin, setelah sekian lama tak berjumpa. Dan aku baru Tersadar akan lorong waktu, yang membuat dayung tak kuasa menahan deburan arus, perahu kita rusak dan oleng. Terpisah karena jarak dan waktu.
Dulu, bocah kecil yang lugu nan baik hati, menjadi teman setia di setiap kejadian. Indah rasanya. Namun dia pergi menyusuri lorong waktu
Ku mencari dalam bisik kalbu yang tak dapat berkata. Ini yang terjadi sekarang? Memang sangat berbeda.
Seragam merah putih yang sekarang sudah menjadi abu-abu putih. Memang bukan waktu yang sebentar. Namun Allah melihat kita. Kita dipisahkan oleh sebuah hijab yang diwajibkan. Rasanya mengulang hari-hari itu mengagumkan.
Aku bermain terlalu asyik dengan imajinasiku tentang kita. Yang secara kenyataan berbeda jauh. Kita terpisah? Sampai kapan? Wa’allaualam, aku lakukan demi menjaga kehormatanku. Ku tundukan kepalaku demi menjga mataku darimu, sengatan asmara yang terpancar dari bola matamu yang tak dapat aku pungkiri. Kita menjauh demi kebaikan
Kini, aku dan kamu mempunyai kehidupan masing-masing. Serasa baru kemarin kita berlarian di danau terlarang itu, bermain lompat-lompatan. Asyik tanpa beban, gembira dengan hidup kita. Namun kini? Apa daya, angin telah membawamu ke duniamu, waktu yang memotong ikatan kita.
Kita berbeda, dari segi apapun aku bukanlah wanita yang engkau cari, karena aku sedang menjaga kehormatanku, bukan sepertimu yang mencari wanita yang bisa menyejukan hati dan membiarkan syahwat betah bersamamu.
Tak ada lagi kata yang bisa kita ucapkan, aku terpuruk di dalam ruangan yang dahulu sangat indah, tempat beramain anak kecil, 2 anak kecil yang sangat akrab, dan aku melihat dalam bayangan itu adalah kita. Karena itu memang kita J aku dan kamu
Rasa yang muncul tiba-tiba hilang, tersapu awan gelap yang menutupi matahari, merunduk menyelimuti sinar matahari, aku bangkit. Karena ini hanyalah sekedar permainan orang dewasa dan aku meninggalkannya untuk beberapa saat. Dan tak terasa waktu terus memakannya bagaikan rayap yang memakan kayu. Kita sudah menemukan jati diri hidup kita masing-masing. Aku membiarkanmu berlari dengan awan, bermain dengan angin, karena ini jalanmu dan bukan jalanku. Fikiran yang terlintas semenjak kita berjumpa yang sekian lama tak pernah ku ingat lagi bayangmu, tiba-tiba menjadi berlarian difikarnku. Entah apa yang terjadi kepada ku, terlebih aku miris melihatmu, melihatmu dengan duniamu. Ingin rasanya aku ajak kembali kedalam hidupku. Namun apa yang ku bisa? Aku wanita yang lemah didepanmu, karena aku bukan siapa-siapamu sekarang. Teman? Bahkan jika dikatakan teman sama sekali bukan,
Terlintas di benaku, untuk sedikit bermimpi tentang masalalu kita yang dulu sangat akrab. Tapi sekarang? Sudahlah. Aku pun tak mengerti, mengapa aku sangat khawatir memikirkanmu. Terlebih aku sayang kamu sebagai sahabatku dulu. Yang sekarang kita sudah kehilangan benang merah. Silahkan nikmati hidupmu. Aku tetap menyebutmu dalam barisan do’a orang yang aku sayangi sahabat J semoga engkau mengingatku kembali walau hanya kilat yang tak terlihat mata.
Aku ingin menjagamu sekarang, kamu yang sudah terjerumus di duniamu. Aku ingin menolongmu, seperti engkau yang dulu menolongku saat kita bermain di danau? Ingatkah itu? Bocah kecil yang lugu dan baik hati.
Roda kehidupan memang ada, dan itu memang terjadi. Setelah sekian lama kita arungi kehidupan yang berbeda. Banyak perubahan yang terjadi di dirimu. Sedangkan aku? Aku masih saja menjadi gadis bodoh yang merindukan teman kecilnya kembali kepadanya. Merindukan sahabat bermainnya dulu yang sekarang mungkin menjadi orang asing baginya. Yah itulah aku sekarang. Aku melihatmu lewat jendela ku, tak berani memanggilmu, sedang apa kamu disana sekarang? Bisa berhenti bermainan di dalam otaku? Mengapa semuanya terjadi bayangan kita?
Tak sadar, tetesan air mata membasahi bumi, aku meneteskan air mata untuk kamu? Sungguh tidak adil . tidak adil untuk kamu yang telah menelantarkan teman kecilmu yang sangat peduli padamu.
Allah maha adil, mungkin ini adalah cobaan yang suatu saat aku pun tidak mengetahui apa yang akan DIA perlihatkan kebesaranNYA, Allah maha tau, dan aku harus bersabar, walau entah sampai kapan harus bersabar. Aku menunggumu bicara dalam hayalan. Dalam lamunan, tapi sifatmu yang seperti es di kutub utara membuatku menggigil. Dan enggan mencoba mendekatimu lagi sahabat. Apa daya, manusia hanya bisa berharap, biar Allah yang menentukan karena hanya Allah tuhan semesta alam yang telah mengatur kehidupan manusia.
Untuk kamu yang disana. Teman masa kecilku DTS 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar